Yang jelas, kecenderungan kapitalistis yang terbentuk sebagai hasil proses sejarah perekonomian Indonesia sejak kemerdekaan, telah mengakibatkan suatu kecenderungan sosial. Yaitu, sebagaimana umumya terjadi di negara-negara lain yang juga menganut kapitalisme, golongan kuat dan kaya akan menjadi semakin kuat dan semakin kaya, sedangkan yang kecil dan miskin makin terjepit.
Kita berharap, dengan memasyarakatkan kewiraswastaan, rakyat kecil akan dapat menolong dirinya untuk bangkit merayap kejenjang kehidupan yang lebih baik. Untuk itu, perlu dilihat bagaimanakah situasi saat ini yang merupakan dampak sebuah sistem kapitalistik.
Penulis mengamati bahwa semacam “shock sosial” telah terjadi, sehubungan dengan percepatan pembangunan bangsa yang banyak melibatkan peran-serta swasta. Shock sosial itu, telah mengakibatkan terbentuknya kelompok-kelompok lapisan masyarakat yang masing-masingnya bereaksi secara berbeda terhadap perubahan zaman. Minimal ada 4 kelompok dapat diidentifikasi berdasarkan perilakunya, yaitu :
1). Kelompok yang sadar betul akan gejala kecenderungan kapitalistik (“Capitalism Awareness”), dan mereka menanggapi kecenderungan itu secara antusias serta bekerja keras dengan konsentrasi penuh untuk mencapai prestasi, dalam lingkungan ekonomi kapitalisme itu. Mereka umumnya terdiri dari para pengusaha golongan ekonomi kelas atas dan menengah. Begitu juga kaum profesional dan karyawan-karyawan yang termotivasi dan sedang menyiapkan diri terjun ke dunia bisnis. Sedikit pengusaha kecil juga ada yang termasuk golongan ini, biasanya dari angkatan muda.
2). Kelompok yang sadar akan ketidak mampuannya mengikuti percepatan pembangunan ekonomi, sehingga dengan pasrah menempatkan dirinya sebagai “penonton” yang baik. Motivasi yang mereka miliki hanyalah sebatas mencari nafkah (“Subsistence Motivation”) untuk memenuhi kebutuhan SPPK (sandang, pangan, papan dan kendaraan). Terdiri dari para pengusaha kecil gurem atau pegel (pengusaha golongan ekonomi lemah) ditambah dengan para pegawai menengah dan rendahan baik swasta maupun negeri yang motivasinya hanya sebatas pemenuhan nafkah pokok.
3). Orang-orang yang tertarik dengan berlangsungnya percepatan ekonomi kapitalistik, tetapi merasa tidak akan mampu untuk ikut ambil bagian. Sehingga, mereka cenderung “lari” kejalur alternatif, yang biasanya merupakan sisa-sisa feodalisme (“Residual Feodalism”). Ciri-ciri umum golongan ini adalah mereka berusaha mencari pengakuan dalam dunia pendidikan, antara lain dengan mengejar gelar-gelar elit strata intelektual (S1, S2, S3 dan seterusnya), tapi tidak menggunakannya dalam dunia pendidikan itu sendiri. Misalnya, bekerja sebagai pegawai negeri dan mengharapkan peningkatan karir berdasarkan prestasi mereka dalam gelar-gelar kesarjanaan. Dengan jalan itu, mereka berharap satu saat kelak bisa menduduki jabatan-jabatan penting dan bisa menjalin hubungan dekat dengan para kapitalis.
4). Kelompok Konvensional, ialah orang-orang yang tidak peduli dengan perubahan dan tetap tinggal dijalur-jalur konvensional. Yang ingin berkarir secara struktural, menjadi pejabat yang baik dan bersih, yang berminat dengan dunia pendidikan, memilih menjadi guru, yang ingin berkarir dibidang teknik menjadi teknokrat, yang bercita-cita menjadi artis tetap didunia seni dan seterusnya. Motivasi mereka biasanya bukan uang, tetapi pengabdian pada karir dibidang masing-masing.
Pembagian kelompok masyarakat dengan cara di atas, merupakan sebuah simplifikasi, sehingga dimungkinkan untuk melihat dunia bisnis dengan bentuk yang lebih sederhana. Bagi calon wiraswastawan, mau tidak mau harus mengerti bahwa kelompok yang akan diterjuni adalah kelompok pertama, yaitu kelompok yang sadar akan kecenderungan kapitalisme. Kita berharap dengan semakin banyaknya pengusaha kecil yang terjun kedunia bisnis yang tidak untuk sekadar mencari nafkah, akan berdampak positif dalam membentuk kekuatan ekonomi baru dari kalangan bawah. Sebagaimana Taiwan yang kokoh struktur ekonominya berkat keterpaduan sekian banyak pengusaha kecil.