Latinusa pun pernah mengalami cobaan berat saat krisis ekonomi 1997-1998. Ardhiman menyaksikan perusahaan tempatnya bekerja sempat limbung ketika pemerintah membuka keran impor pelat timah dan memangkas bea masuk impor.
Sebagai Kepala Divisi Pemasaran saat itu, Ardhiman bertanggung jawab untuk segera melepas persediaan. Hal tersebut, bukanlah tugas mudah menjual pelat timah dalam jumlah besar ketika produk impor tiba-tiba membanjiri pasar domestik.
Belum lagi rata-rata industri dalam negeri juga terpuruk akibat krisis. Keputusan melepas produk ke luar negeri atau ekspor menjadi satu-satunya cara agar perusahaan tetap bertahan hidup.
Namun, berbagai cobaan terus berangsur pulih seiring dengan membaiknya ekonomi. Peristiwa itu membuat dirinya meyakini bahwa di balik musibah pasti ada berkah tersembunyi. Berbagai musibah dan tantangan dalam perjalanan hidup dan kariernya justru membuat pria kelahiran Bandung ini, sukses menapak karier.
Ketertarikannya di Latinusa, hanya karena alasan praktis. Usai mendapat beasiswa di Filipina dari almamaternya, Universitas Padjajaran, Bandung, Ardhiman justru meninggalkan kariernya sebagai dosen untuk mencoba dunia baru di Latinusa, satu-satunya produsen pelat timah di Indonesia.
Dia bergabung dengan Latinusa pada 1985, ketika perusahaan yang didirikan 1982 itu belum berproduksi. Saat itu, Latinusa baru dalam tahap pembangunan pabriknya di Cilegon, Banten. Meski Latinusa perusahaan baru, Ardhiman memilih bergabung karena tergiur fasilitas rumah yang ditawarkan Latinusa ketika itu.
Keberadaan rumah dianggap bisa memudahkan rencananya untuk membina hidup baru dengan pujaan hati. Namun, perjalanan hidup ternyata tidak selalu berjalan mulus. Tiga bulan setelah diterima di Latinusa dan bekerja di Cilegon, Ardhiman justru ditarik ke kantor pusat di Jakarta. Dengan berat hati, rencana menikah akhirnya ditunda sementara karena perusahaan tidak menyediakan fasilitas rumah di Jakarta.
Tak berapa lama bekerja di Jakarta, cobaan kembali menghadang hidup Ardhiman ketika calon istrinya meninggal dunia. Terpukul dengan kepergian sang kekasih, dia justru melampiaskan kesedihannya dengan bekerja.